Ilustrasi
MuslimahZone.com – Membahas tentang cemburu, sama seperti membahas tentang
cinta. Rumusnya sebenarnya simpel, jika cinta karena Alloh cemburunya pun
karena Alloh. Tapi jika cinta karena hawanafsu, maka cemburunya pun karena
hawanafsu. Cinta karena Alloh adalah cinta sebab ada pada seseorang sifat dan
perilaku yang dicintai Alloh. Dan yang pasti Alloh hanya mencintai sifat dan
perilaku yang menaati secara mutlak seluruh perintahNya dan menjauhi
laranganNya. Pun, saat ujian menyapa.
Apa sebenarnya cemburu itu? Banyak
yang pernah merasakan tapi masih susah saat mendefinisikan. Pengertian paling
sederhana adalah rasa tidak suka karena sikap dan perbuatan pasangan
dengan orang lain. Ketika suami berjalan, berboncengan berduaan dengan wanita
ajnabi, seorang istri sholihah pasti cemburu. Istri sholihah pun akan cemburu
ketika didapati suaminya tengah asyik bersms, berbbm, berfesbuk ria dengan wanita
asing. Ini cemburu yang benar, cemburu karena Alloh pun cemburu dengan perilaku
seorang suami seperti itu.
Mungkin bagi sebagian orang biasa,
bukan masalah, tapi tidak bagi wanita sholihah. Islam telah mengatur sedemikian
rupa bagaimana interaksi antar lawan jenis, sekalipun di dunia maya. Islam
melarang berdua-duaan karena yang ketiganya adalah setan. Islam pun mengajarkan
interaksi pria wanita hanya dalam tiga hal, pengobatan, pendidikan dan jual
beli. Itupun masih lebih afdol dilakukan sesama jenis, kecuali sikon tak
memungkinkan.
Cemburu, sebuah rasa yang Alloh
hadirkan sebagai suatu bentuk ujian pada manusia. Sama seperti cinta, sakit,
dan luka. Dan yang namanya perasaan pasti berada di bawah kendali manusia.
Memilih untuk diikuti, berarti cemburu yang menguasai kita, atau memilih untuk
dikelola yang berarti cemburu berada di bawah kekuasaan kita.
Sejatinya ada dua jenis cemburu,
yaitu cemburu yang Alloh sukai dan yang tidak Alloh sukai. Rasulullah
bersabda: “Rasa cemburu ada yang disukai Allah dan ada pula yang tidak
disukai-Nya. Kecemburuan yang disukai Allah adalah yang disertai alasan yang
benar. Sedangkan yang dibenci ialah yang tidak disertai alasan yang benar
(cemburu buta).” (HR. Abu Daud).
Alasan yang benar di sini misalnya
adalah karena pasangan melakukan pelanggaran syariat sebagaimana dijelaskan
dalam sebuah hadits berikut:
Sa’ad bin Ubadah ra
berkata: “Seandainya aku melihat seorang pria bersama istriku, niscaya aku
akan menebas pria itu dengan pedang.” Nabi saw bersabda: “Apakah kalian merasa
heran dengan cemburunya Sa`ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa`ad dan
Allah lebih cemburu daripadaku” (HR Bukhari Muslim).
Bisa juga karena pasangan tidak
memperhatikan hak-hak suami atau istrinya. Seperti yang melanda banyak orang di
era serba digital seperti sekarang ini, yang memunculkan istilah, ” yang jauh
semakin dekat, yang dekat menjadi jauh.” Misal, istri yang lebih mengutamakan
sms, bbm pria lain daripada memanfaatkan waktu memperhatikan suaminya. Atau
suami yang lebih suka memilih membangunkan wanita lain untuk tahajud dan sahur
daripada memperhatikan istrinya. Atau suami lebih memilih mengirim sms nasihat
agama pada wanita yang bukan istrinya. Sekalipun ada hak suami untuk taaruf
lagi, bukan berarti hak istri boleh diabaikan. Apalagi bila interaksi antar
lawan jenis sudah bukan dalam koridor taaruf dan di luar tiga hal yang
dibolehkan syara, seperti saling menanyakan kabar, minta didoakan, minta
dibawakan oleh-oleh dan semisalnya.
“Sesungguhnya Allah cemburu, orang
beriman cemburu, dan cemburuNya Allah jika seorang Mu’min melakukan apa yang
Allah haramkan atasnya” (HR. Imam Ahmad, al-Bukhari dan Muslim).
Jadi cemburu sesungguhnya adalah
perasaan yang dianugerahkan Alloh. Wajar bahkan wajib dimiliki untuk alasan
yang dibenarkan. Ini berarti cemburu harus dimanaj sedemikian rupa agar
proporsional dan tidak mengotori hati, apalagi mengarah pada pelanggaran
syariat. Pada perilaku dosa dan mendatangkan murka Alloh. Betapa berbahayanya
bila cemburu buta terjadi. Tak lagi si pencemburu buta takut pada Alloh. Tak
peduli lagi ia pada dosa. Tak malu ia melakukan tindakan apa saja, sekalipun
menyebarkan aibnya sendiri. Hawa nafsu yang terus diperturutkan dapat melupakan
banyak hal, termasuk kehormatan diri dan keluarganya.
Sebagai contoh, di Samarinda,
Kalimantan Timur seorang istri yang cemburu membakar suaminya hingga tewas
(06/03/2013). Di Tasikmalaya, seorang pemuda nekat membunuh seorang janda
mantan kekasihnya yang dicemburuinya (20/02/2013). Warga Desa Mojokerto cemburu
dan gelap mata hingga akhirnya membacok seorang pria setelah melihat isi sms
mesra istrinya dengan pria tersebut (08/03/2013).
Rosulullah sendiri tidak akan
membiarkan jika cemburu itu mendorong perbuatan yang diharamkan, misalnya
mengghibah. Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, cukup bagimu
Shafiyyah, dia itu begini dan begitu (pendek)”. Rasulullah berkata:
“Sungguh engkau telah mengucapkan satu kata, yang seandainya dicampur dengan
air laut, niscaya akan dapat mencemarinya” (HR Abu Dawud).
Ketika mendapatkan Shafiyyah
menangis Nabi bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?.” Shafiyyah
menjawab, “Hafshah mencelaku dengan mengatakan aku putri Yahudi”. Nabi berkata
menghiburnya, “Sesungguhnya engkau adalah putri seorang nabi, pamanmu adalah
seorang nabi, dan engkau adalah istri seorang nabi. Lalu bagaimana dia
membanggakan dirinya terhadapmu?”. Kemudian beliau menasihati,
“Bertakwalah kepada Allah, wahai Hafshah” (HR An Nasa’i).
Berikut beberapa cara yang bisa
dilakukan untuk menghindari perasaan cemburu buta :
1. Selalu mengikatkan hati, lisan
dan perbuatan pada aturan Alloh. Ucapkan hanya kalimat-kalimat yang baik pada
pasangan sekalipun sedang cemburu, sebab ucapan pun adalah doa. Hindari dari
lisan yang mencaci maki, menghujat apalagi menghinakan, karena pasti akan menyakiti
hati pasangan.
2. Perbanyaklah berdzikir untuk
menenangkan hati. Sibukkan diri dengan membaca alquran, dan kalimah dzikrulloh
yang dituntunkan seperti subhanalloh alhamdulillah laa illaha illalloh Allohu
Akbar.
3. Memilih sabar dalam mengendalikan
cemburu. Sesungguhnya sabar adalah penolong dan memiliki pahala tanpa batas.
4. Berdoa memohon pertolongan Alloh
SWT dan membasahi hati serta lisan dengan istighfar. Pahami bahwa tanpa Alloh,
kita tak punya daya apa-apa.
5. Selalu mengingat mati. Ini akan
menjaga kita dari memilih perbuatan dosa dan mendholimi pasangan.
6. Bersikap qona’ah, menerima segala
ketentuan Alloh dengan lapang dada. Cemburulah hanya jika Alloh pun cemburu.
7. Bersyukur pada pasangan. Ingatlah
segala kebaikannya dan maafkan kekhilafannya yang tidak disengaja. Sadari
seutuhnya pasangan pun manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan dan
keterbatasan.
8. Membangun kepercayaan dan
keterbukaan dengan pasangan. Panggillah pasangan dengan kata-kata yang indah
dan penuh cinta, seperti rosululloh memanggil humaira pada ibunda Aisyah.
9. Jauhi sifat dan perilaku dendam,
apalagi dengan memanfaatkan kelembutan dan kebaikan hati pasangan. Jauhi
mengandalkan bisikan setan seperti ini, “Sedendam apapun aku, sedholim apapun
aku….suatu saat nanti, beberapa tahun lagi…ia pasti akan memaafkanku dan
membuka pintu hati untukku…karena cintanya padaku..selalu ada cara ia tak bisa
melupakanku….ia akan kembali padaku.” Hemm sayang kita hidup di dunia nyata,
bukan sinetron. Jadi berhentilah bermimpi dan berangan-angan.
10. Jadilah manusia yang kuat, yang
mampu menundukkan diri sendiri. Sederas apapun angin menerpa, sekuat apapun
tekanan menghujam, sebesar apapun badai dan gelombang menghantam jangan pernah
bawa dan menceritakan masalah pribadi dan pasangan pada orang lain, dunia luar
yang sejatinya tak tahu apa-apa tentang kehidupan kita. Kita adalah pakaian
bagi pasangan. Menyebarkan aib pasangan sama saja dengan mempertontonkan aib
diri sendiri. Jangan salahkan siapapun jika suatu saat nanti bisa menusuk balik
pada diri kita. Ingatlah sebuah peribahasa, “mulutmu adalah harimaumu..” mulut
kita sendiri yang justru akan menerkam diri.
11. Senantiasa melakukan introspeksi
diri. Jujurlah untuk menilai diri sendiri dengan patokan hukum syara. Katakan
benar jika memang benar, dan berbesar hatilah mengakui jika memang salah.
Jangan pernah menjadikan orang lain sebagai kambing hitam atas pilihan
perbuatan kita, atas apa yang terjadi pada kita atau atas maksiat/ketidaktaatan
yang pernah kita lakukan. Ali bin Abu Tholib menasihati, ” kalau lupa dengan
kesalahan diri, maka kesalahan orang lain akan lebih besar terlihat.”
Wallohu’alam. []
Oleh : Anna Nur F., Ibu Rumah Tangga
(esqiel/islampos/muslimahzone.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar